<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jodhipatifm.co.id</title>
	<atom:link href="http://jodhipatifm.co.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jodhipatifm.co.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 17:18:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>RON GARING</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/ron-garing/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/ron-garing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 17:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[RON GARING Wengi sansaya atis nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan kang digawa dening angin prasasat tan kendhat anggonku kulak warta adol prungu ananging isih mamring aku wis pingin cecaketan obormu kang makantar-kantar madhangi jangkah lan jagatku ana ngendi papanmu lelana tapa brata tanpa pawarta tanpa swara aku kadya ron garing kumleyang kabur kanginan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RON GARING</strong></p>
<p>Wengi sansaya atis<br />
nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan<br />
kang digawa dening angin</p>
<p>prasasat tan kendhat<br />
anggonku kulak warta adol prungu<br />
ananging isih mamring</p>
<p>aku wis pingin cecaketan<br />
obormu kang makantar-kantar<br />
madhangi jangkah lan jagatku</p>
<p>ana ngendi papanmu<br />
lelana tapa brata<br />
tanpa pawarta tanpa swara</p>
<p>aku kadya ron garing<br />
kumleyang kabur kanginan<br />
ing jagat peteng lelimengan</p>
<p>krasa luwih abot<br />
anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep<br />
mlakuku ora mantep</p>
<p>kagubet ribet lan ruwet<br />
adoh saka cahyamu<br />
pedhut ing sakindering pandulu</p>
<p>panjenengan<br />
guruku, sihku, oborku<br />
kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati.<br />
Pengarang: Budhi setyawan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/ron-garing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanoman</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/hanoman/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/hanoman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2012 17:31:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Hanoman (Sanskerta: Hanuman) atau Hanumat, juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hanoman</strong> (Sanskerta: <em>Hanuman</em>) atau Hanumat, juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kelahiran</strong></p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/god_hanuman-1.jpg?w=225&amp;h=343" alt="God Hanuman" width="225" height="343" align="right" hspace="4" />Hanoman lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putera yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putera mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanoman.</p>
<p>Salah satu versi menceritakan bahwa ketika Anjani bertapa memuja Siwa, di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya untuk memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa makanan untuk dibagikan kepada tiga istrinya, yang di kemudian hari melahirkan Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewata, seekor burung merenggut sepotong makanan tersebut, dan menjatuhkannya di atas hutan dimana Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan makanan tersebut agar jatuh di tangan Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah Hanoman.</p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/hanomanmenghadaprama-sita-laksmana.jpg?w=225&amp;h=151" alt="Hanoman menghadap Rama-Sita-Laksmana" width="225" height="151" align="right" hspace="4" />Salah satu versi mengatakan bahwa Hanoman lahir secara tidak sengaja karena hubungan antara Bayu dan Anjani. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Dewa Bayu melihat kecantikan Anjani, kemudian ia memeluknya. Anjani marah karena merasa dilecehkan. Namun Dewa Bayu menjawab bahwa Anjani tidak akan ternoda oleh sentuhan Bayu. Ia memeluk Anjani bukan di badannya, namun di dalam hatinya. Bayu juga berkata bahwa kelak Anjani akan melahirkan seorang putera yang kekuatannya setara dengan Bayu dan paling cerdas di antara para wanara.</p>
<p>Sebagai putera Anjani, Hanoman dipanggil Anjaneya (diucapkan “Aanjanèya”), yang secara harfiah berarti “lahir dari Anjani” atau “putera Anjani”.</p>
<p><strong>Masa kecil</strong></p>
<p>Pada saat Hanoman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanoman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Hanoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanoman akan kebal dari segala senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, Hanoman menjadi makhluk yang abadi atau Chiranjiwin.</p>
<p><strong>Pertemuan dengan Rama</strong></p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/patunghanomandaridinastichola.jpg?w=225&amp;h=338" alt="Patung Hanoman dari Dinasti Chola" width="225" height="338" align="right" hspace="4" />Pada saat melihat Rama dan Laksmana datang ke Kiskenda, Sugriwa merasa cemas. Ia berpikir bahwa mereka adalah utusan Subali yang dikirim untuk membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa memanggil prajurit andalannya, Hanoman, untuk menyelidiki maksud kedatangan dua orang tersebut. Hanoman menerima tugas tersebut kemudian ia menyamar menjadi brahmana dan mendekati Rama dan Laksmana.</p>
<p>Saat bertemu dengan Rama dan Laksmana, Hanoman merasakan ketenangan. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda permusuhan dari kedua pemuda itu. Rama dan Laksmana juga terkesan dengan etika Hanoman. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan bebas. Mereka menceritakan riwayat hidupnya masing-masing. Rama juga menceritakan keinginannya untuk menemui Sugriwa. Karena tidak curiga lagi kepada Rama dan Laksmana, Hanoman kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rama dan Laksmana menemui Sugriwa.</p>
<p><strong>Petualangan mencari Sita</strong></p>
<p>Dalam misi membantu Rama mencari Sita, Sugriwa mengutus pasukan wanara-nya agar pergi ke seluruh pelosok bumi untuk mencari tanda-tanda keberadaan Sita, dan membawanya ke hadapan Rama kalau mampu. Pasukan wanara yang dikerahkan Sugriwa dipimpin oleh Hanoman, Anggada, Nila, Jembawan, dan lain-lain. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari dan menelusuri sebuah gua, kemudian tersesat dan menemukan kota yang berdiri megah di dalamnya. Atas keterangan Swayampraba yang tinggal di sana, kota tersebut dibangun oleh arsitek Mayasura dan sekarang sepi karena Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu Hanoman menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba yang sakti, Hanoman dan wanara lainnya lenyap dari gua dan berada di sebuah pantai dalam sekejap.</p>
<p>Di pantai tersebut, Hanoman dan wanara lainnya bertemu dengan Sempati, burung raksasa yang tidak bersayap. Ia duduk sendirian di pantai tersebut sambil menunggu bangkai hewan untuk dimakan. Karena ia mendengar percakapan para wanara mengenai Sita dan kematian Jatayu, Sempati menjadi sedih dan meminta agar para wanara menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Anggada menceritakan dengan panjang lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para wanara tahu bahwa Sita ditawan di sebuah istana yang teretak di Kerajaan Alengka. Kerajaan tersebut diperintah oleh raja raksasa bernama Rahwana. Para wanara berterima kasih setelah menerima keterangan Sempati, kemudian mereka memikirkan cara agar sampai di Alengka.</p>
<p><strong>Pergi ke Alengka</strong></p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/hanomanmengangkatgunungdronagiri.jpg?w=225&amp;h=281" alt="Hanoman mengangkat Gunung Dronagiri" width="225" height="281" align="right" hspace="4" />Karena bujukan para wanara, Hanoman teringat akan kekuatannya dan terbang menyeberangi lautan agar sampai di Alengka. Setelah ia menginjakkan kakinya di sana, ia menyamar menjadi monyet kecil dan mencari-cari Sita. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Namun tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk dengan senjata lengkap. Kemudian ia datang ke istana Rahwana dan mengamati wanita-wanita cantik yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tidak melihat Sita yang sedang merana. Setelah mengamati ke sana-kemari, ia memasuki sebuah taman yang belum pernah diselidikinya. Di sana ia melihat wanita yang tampak sedih dan murung yang diyakininya sebagai Sita.</p>
<p>Kemudian Hanoman melihat Rahwana merayu Sita. Setelah Rahwana gagal dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sita, Hanoman menghampiri Sita dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sita curiga, namun kecurigaan Sita hilang saat Hanoman menyerahkan cincin milik Rama. Hanoman juga menjanjikan bantuan akan segera tiba. Hanoman menyarankan agar Sita terbang bersamanya ke hadapan Rama, namun Sita menolak. Ia mengharapkan Rama datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian Hanoman mohon restu dan pamit dari hadapan Sita. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh ribuan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana seperti Jambumali dan Aksha. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit dengan senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit tubuh hanoman. Namun kesaktian Brahma Astra lenyap saat tentara raksasa menambahkan tali jerami. Indrajit marah bercampur kecewa karena Brahma Astra bisa dilepaskan Hanoman kapan saja, namun Hanoman belum bereaksi karena menunggu saat yang tepat.</p>
<p><strong>Terbakarnya Alengka</strong></p>
<p>Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanoman, Wibisana membela Hanoman agar hukumannya diringankan, mengingat Hanoman adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan hukuman agar ekor Hanoman dibakar. Melihat hal itu, Sita berdo’a agar api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Karena do’a Sita kepada Dewa Agni terkabul, api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Lalu ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra yang mengikat dirinya. Dengan ekor menyala-nyala seperti obor, ia membakar kota Alengka. Kota Alengka pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran besar, ia menceburkan diri ke laut agar api di ekornya padam. Penghuni surga memuji keberanian Hanoman dan berkata bahwa selain kediaman Sita, kota Alengka dilalap api.</p>
<p>Dengan membawa kabar gembira, Hanoman menghadap Rama dan menceritakan keadaan Sita. Setelah itu, Rama menyiapkan pasukan wanara untuk menggempur Alengka.</p>
<p><strong>Pertempuran besar</strong></p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/hanomandalamyakshagana.jpg?w=205&amp;h=308" alt="Hanoman dalam Yakshagana" width="205" height="308" align="right" hspace="4" />Dalam pertempuran besar antara Rama dan Rahwana, Hanoman membasmi banyak tentara rakshasa. Saat Rama, Laksmana, dan bala tentaranya yang lain terjerat oleh senjata Nagapasa yang sakti, Hanoman pergi ke Himalaya atas saran Jembawan untuk menemukan tanaman obat. Karena tidak tahu persis bagaimana ciri-ciri pohon yang dimaksud, Hanoman memotong gunung tersebut dan membawa potongannya ke hadapan Rama. Setelah Rama dan prajuritnya pulih kembali, Hanoman melanjutkan pertarungan dan membasmi banyak pasukan rakshasa.</p>
<p><strong>Kehidupan selanjutnya</strong></p>
<p>Setelah pertempuran besar melawan Rahwana berakhir, Rama hendak memberikan hadiah untuk Hanoman. Namun Hanoman menolak karena ia hanya ingin agar Sri Rama bersemayam di dalam hatinya. Rama mengerti maksud Hanoman dan bersemayam secara rohaniah dalam jasmaninya. Akhirnya Hanoman pergi bermeditasi di puncak gunung mendo’akan keselamatan dunia.</p>
<p>Pada zaman Dwapara Yuga, Hanoman bertemu dengan Bima dan Arjuna dari lingkungan keraton Hastinapura. Dari pertemuannya dengan Hanoman, Arjuna menggunakan lambang Hanoman sebagai panji keretanya pada saat Bharatayuddha.</p>
<p><strong>Tradisi dan pemujaan</strong></p>
<p>Di negara India yang didominasi oleh agama Hindu, terdapat banyak kuil untuk memuja Hanoman, dan dimana pun ada gambar awatara Wisnu, selalu ada gambar Hanoman. Kuil Hanoman bisa ditemukan di banyak tempat di India dan konon daerah di sekeliling kuil itu terbebas dari raksasa atau kejahatan.</p>
<p>Beberapa kuil Hanoman yang terkenal adalah:</p>
<ul>
<li>Kuil Hanoman di Nerul Navi, Mumbai, India.</li>
<li>Puncak monyet, Himachal Pradesh, India.</li>
<li>Kuil Jhaku, Himachal Pradesh, India.</li>
<li>Kuil Sri Suchindram, Tamilnadu, India.</li>
<li>Sri Hanuman Vatika, Orissa, India.</li>
<li>Kuil Saakshi Hanuman, Tamilnadu, India.</li>
<li>Shri Krishna Matha (Kuil Krishna), Udupi.</li>
<li>Krishnapura Matha, Krishnapura dekat Surathkal.</li>
<li>Kuil Ragigudda Anjaneya, Jayanagar, Bangalore.</li>
<li>Hanumangarhi, Ayodhya.</li>
<li>Kuil Sankat Mochan, Benares.</li>
<li>Kuil Hanuman, dekat Nuwara Eliya, Sri Lanka.</li>
<li>Salasar Balaji, Distrik Churu, Rajasthan.</li>
<li>Kuil Mehandipur Balaji, Rajasthan.</li>
<li>Ada Balaji, di hutan suaka Sariska, Alwar, Rajasthan.</li>
<li>Sebelas kuil Maruthi di Maharashtra.</li>
<li>Kuil Shri Hanuman di Connaught Place, New Delhi.</li>
<li>Shri Baal Hanumaan, Tughlak Road, New Delhi.</li>
<li>Kuil Prasanna Veeranjaneya Swami, di Mahalakshmi Layout, Bangalore, Karnataka.</li>
<li>Sri Nettikanti Anjaneya Swami Devasthanam, Kasapuram, Andhra Pradesh.</li>
<li>Yellala Anjaneya Swami, Yellala, Andhra Pradesh.</li>
<li>Pura Sri Mahavir, Patna, Bihar.</li>
<li>Kuil Sri Vishwaroopa Anchaneya, Tamilnadu, India.</li>
</ul>
<p><strong>Hanoman dalam pewayangan Jawa</strong></p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/wayanganomanversiyogyakarta.jpg?w=225&amp;h=300" alt="Wayang Anoman versi Yogyakarta" width="225" height="300" align="right" hspace="4" />Hanoman dalam pewayangan Jawa merupakan putera Bhatara Guru yang menjadi murid dan anak angkat Bhatara Bayu. Hanoman sendiri merupakan tokoh lintas generasi sejak zaman Rama sampai zaman Jayabaya.</p>
<p><strong>Kelahiran</strong></p>
<p>Anjani adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di telaga Madirda. Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi angkasa. Saat melihat Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan air mani. Raja para dewa pewayangan itu pun mengusapnya dengan daun asam (Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan dirinya sendiri kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari.</p>
<p><strong>Mengabdi pada Sugriwa</strong></p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/wayanganomanversisurakarta.jpg?w=225&amp;h=303" alt="Wayang Anoman versi Surakarta" width="225" height="303" align="right" hspace="4" />Bayi berwujud kera putih yang merupakan putera Anjani diambil oleh Batara Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Hanoman kembali ke dunia dan mengabdi pada pamannya, yaitu Sugriwa, raja kera Gua Kiskenda. Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya, yaitu Subali, paman Hanoman lainnya. Hanoman berhasil bertemu Rama dan Laksmana, sepasang pangeran dari Ayodhya yang sedang menjalani pembuangan. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Sugriwa untuk mengalahkan Subali, dan bersama menyerang negeri Alengka membebaskan Sita, istri Rama yang diculik Rahwana murid Subali.</p>
<p><strong>Melawan Alengka</strong></p>
<p>Pertama-tama Hanoman menyusup ke istana Alengka untuk menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di sana ia membuat kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum bakar. Sebaliknya, Hanoman justru berhasil membakar sebagian ibu kota Alengka. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan Hanoman Obong. Setelah Hanoman kembali ke tempat Rama, pasukan kera pun berangkat menyerbu Alengka. Hanoman tampil sebagai pahlawan yang banyak membunuh pasukan Alengka, misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana.</p>
<p><strong>Tugas untuk Hanoman</strong></p>
<p>Dalam pertempuran terakhir antara Rama kewalahan menandingi Rahwana yang memiliki Aji Pancasunya, yaitu kemampuan untuk hidup abadi. Setiap kali senjata Rama menewaskan Rahwana, seketika itu pula Rahwana bangkit kembali. Wibisana, adik Rahwana yang memihak Rama segera meminta Hanoman untuk membantu. Hanoman pun mengangkat Gunung Ungrungan untuk ditimpakan di atas mayat Rahwana ketika Rahwana baru saja tewas di tangan Rama untuk kesekian kalinya. Melihat kelancangan Hanoman, Rama pun menghukumnya agar menjaga kuburan Rahwana. Rama yakin kalau Rahwana masih hidup di bawah gencetan gunung tersebut, dan setiap saat bisa melepaskan roh untuk membuat kekacauan di dunia.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian setelah Rama meninggal, roh Rahwana meloloskan diri dari Gunung Ungrungan lalu pergi ke Pulau Jawa untuk mencari reinkarnasi Sita, yaitu Subadra adik Kresna. Kresna sendiri adalah reinkarnasi Rama. Hanoman mengejar dan bertemu Bima, adiknya sesama putera angkat Bayu. Hanoman kemudian mengabdi kepada Kresna. Ia juga berhasil menangkap roh Rahwana dan mengurungnya di Gunung Kendalisada. Di gunung itu Hanoman bertindak sebagai pertapa.</p>
<p><strong>Anggota Keluarga</strong></p>
<p>Berbeda dengan versi aslinya, Hanoman dalam pewayangan memiliki dua orang anak. Yang pertama bernama Trigangga yang berwujud kera putih mirip dirinya. Konon, sewaktu pulang dari membakar Alengka, Hanoman terbayang-bayang wajah Trijata, puteri Wibisana yang menjaga Sita. Di atas lautan, air mani Hanoman jatuh dan menyebabkan air laut mendidih. Tanpa sepengetahuannya, Baruna mencipta buih tersebut menjadi Trigangga. Trigangga langsung dewasa dan berjumpa dengan Bukbis, putera Rahwana. Keduanya bersahabat dan memihak Alengka melawan Rama. Dalam perang tersebut Trigangga berhasil menculik Rama dan Laksmana namun dikejar oleh Hanoman. Narada turun melerai dan menjelaskan hubungan darah di antara kedua kera putih tersebut. Akhirnya, Trigangga pun berbalik melawan Rahwana.</p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/lukisanhanomanversithailand.jpg?w=225&amp;h=248" alt="Lukisan Hanoman versi Thailand" width="225" height="248" align="right" hspace="4" />Putera kedua Hanoman bernama Purwaganti, yang baru muncul pada zaman Pandawa. Ia berjasa menemukan kembali pusaka Yudistira yang hilang bernama Kalimasada. Purwaganti ini lahir dari seorang puteri pendeta yang dinikahi Hanoman, bernama Purwati.</p>
<p><strong>Kematian</strong></p>
<p>Hanoman berusia sangat panjang sampai bosan hidup. Narada turun mengabulkan permohonannya, yaitu “ingin mati”, asalkan ia bisa menyelesaikan tugas terakhir, yaitu merukunkan keturunan keenam Arjuna yang sedang terlibat perang saudara. Hanoman pun menyamar dengan nama Resi Mayangkara dan berhasil menikahkan Astradarma, putera Sariwahana, dengan Pramesti, puteri Jayabaya. Antara keluarga Sariwahana dengan Jayabaya terlibat pertikaian meskipun mereka sama-sama keturunan Arjuna. Hanoman kemudian tampil menghadapi musuh Jayabaya yang bernama Yaksadewa, raja Selahuma. Dalam perang itu, Hanoman gugur, moksa bersama raganya, sedangkan Yaksadewa kembali ke wujud asalnya, yaitu Batara Kala, sang dewa kematian.</p>
<p><strong>Pranala:</strong></p>
<ul>
<li>Wikipedia: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hanoman">Hanoman</a>. (Sumber artikel ini).</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/hanoman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bonang</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/bonang/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/bonang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 08:13:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gamelan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Satu set sepuluh sampai empat-belas gong- gong kecil berposisi horisontal yang disusun dalam dua deretan, diletakkan di atas tali yang direntangkan pada bingkai kayu. Pemain duduk di tengah-tengah pada sisi deretan gong beroktaf rendah, memegang tabuh berbentuk bulat panjang di setiap tangan. Ada tiga macam bonang, dibeda-bedakan menurut ukuran, wilayah oktaf, dan fungsinya dalam ansambel. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jodhipatifm.co.id/bonang/bonang/" rel="attachment wp-att-147"><img class="aligncenter size-full wp-image-147" title="bonang" src="http://jodhipatifm.co.id/wp-content/uploads/2012/02/bonang.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a>Satu set sepuluh sampai empat-belas gong- gong kecil berposisi horisontal yang disusun dalam dua deretan, diletakkan di atas tali yang direntangkan pada bingkai kayu. Pemain duduk di tengah-tengah pada sisi deretan gong beroktaf rendah, memegang tabuh berbentuk bulat panjang di setiap tangan.<br />
Ada tiga macam bonang, dibeda-bedakan menurut ukuran, wilayah oktaf, dan fungsinya dalam ansambel. BONANG BARUNG :<br />
Bonang berukuran sedang, beroktaf tengah sampai tinggi, adalah salah satu dari instrumen-instrumen pemuka dalam ansambel.<br />
Khususnya dalam teknik tabuhan pipilan, pola-pola nada yang selalu mengantisipasi nada-nada yang akan datang dapat menuntun lagu instrumen-instrumen lainnya.<br />
Pada jenis gendhing bonang, bonang barung memainkan pembuka gendhing (menentukan gendhing yang akan dimainkan) dan menuntun alur lagu gendhing.<br />
Pada teknik tabuhan imbal-imbalan, bonang barung tidak berfungsi sebagai lagu penuntun; ia membentuk pola-pola lagu jalin-menjalin dengan bonang panerus, dan pada aksen aksen penting bonang boleh membuat sekaran (lagu-lagu hiasan), biasanya di akhiran kalimat lagu.</p>
<p>BONANG PANERUS<br />
Bonang yang paling kecil, beroktaf tinggi.<br />
Pada teknik tabuhan pipilan, bonang panerus berkecepatan dua kali lipat dari pada bonang barung.<br />
Walaupun mengantisipasi nada-nada balungan, bonang panerus tidak berfungsi sebagai lagu tuntunan, karena kecepatan dan ketinggian wilayah nadanya.<br />
Dalam teknik tabuhan imbal-imbalan, bekerja sama dengan bonang barung, bonang panerus memainkan pola-pola lagu jalin menjali</p>
<p>sumber: ki-demang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/bonang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lintang-lintang</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/lintang-lintang/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/lintang-lintang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 07:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Lintang-lintang lintang-lintang abyor ing tawang cumlorot sliweran nalika alihan kumleyang mencok ing socamu asihku cahyane gumebyar sunare gilar-gilar ing telenge atimu sliramu tansah dakantu lintang-lintang alihan cumlorot telu ana pundhakku kawitan lintang abang lintang perang kapindho lintang mirunggan lintang kamanungsan pungkasan lintang kumukus lintang kadurakan (Suharmono, Jaya Baya. XXXI, 1977:26) Hayu ning bawono]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lintang-lintang</strong></p>
<p>lintang-lintang abyor ing tawang<br />
cumlorot sliweran nalika alihan<br />
kumleyang mencok ing socamu asihku<br />
cahyane gumebyar sunare gilar-gilar<br />
ing telenge atimu sliramu tansah dakantu</p>
<p>lintang-lintang alihan<br />
cumlorot telu ana pundhakku<br />
kawitan lintang abang lintang perang<br />
kapindho lintang mirunggan lintang kamanungsan<br />
pungkasan lintang kumukus lintang kadurakan</p>
<p>(Suharmono, Jaya Baya. XXXI, 1977:26)</p>
<p>Hayu ning bawono</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/lintang-lintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2 Tahun Anniversary Bioactiva</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/2-tahun-anniversary-bioactiva/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/2-tahun-anniversary-bioactiva/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 05:46:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jodhipatifm.co.id/2-tahun-anniversary-bioactiva/jodhipati-on-bioactiva/" rel="attachment wp-att-112"><img class="aligncenter size-full wp-image-112" title="jodhipati on bioactiva" src="http://jodhipatifm.co.id/wp-content/uploads/2012/01/jodhipati-on-bioactiva.jpg" alt="" width="495" height="308" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/2-tahun-anniversary-bioactiva/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semar</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/semar/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/semar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 12:30:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. &#160; Sejarah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sejarah Semar</strong></p>
<p>Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.<a href="http://jodhipatifm.co.id/semar/semar_wayang_jawa-1/" rel="attachment wp-att-86"><img class="alignleft size-full wp-image-86" title="semar_wayang_jawa-1" src="http://jodhipatifm.co.id/wp-content/uploads/2012/01/semar_wayang_jawa-1.jpg" alt="" width="270" height="281" /></a></p>
<p>Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.</p>
<p>Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.</p>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.</p>
<p><strong>Asal-Usul dan Kelahiran</strong></p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/semar_wayang_golek.jpg?w=180&amp;h=300" alt="Semar Wayang Golek" width="180" height="300" align="right" hspace="4" />Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.</p>
<p>Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.</p>
<p>Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.</p>
<p>Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.</p>
<p>Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.</p>
<p><strong>Silsilah dan Keluarga</strong></p>
<p>Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahir sepuluh orang anak, yaitu:</p>
<ul>
<li>Batara Wungkuham</li>
<li>Batara Surya</li>
<li>Batara Candra</li>
<li>Batara Tamburu</li>
<li>Batara Siwah</li>
<li>Batara Kuwera</li>
<li>Batara Yamadipati</li>
<li>Batara Kamajaya</li>
<li>Batara Mahyanti</li>
<li>Batari Darmanastiti</li>
</ul>
<p>Semar sebagai penjelmaan Ismaya mengabdi untuk pertama kali kepada Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Pada suatu hari Semar diserang dua ekor harimau berwarna merah dan putih. Manumanasa memanah keduanya sehingga berubah ke wujud asli, yaitu sepasang bidadari bernama Kanistri dan Kaniraras. Berkat pertolongan Manumanasa, kedua bidadari tersebut telah terbebas dari kutukan yang mereka jalani. Kanistri kemudian menjadi istri Semar, dan biasa dipanggil dengan sebutan Kanastren. Sementara itu, Kaniraras menjadi istri Manumanasa, dan namanya diganti menjadi Retnawati, karena kakak perempuan Manumanasa juga bernama Kaniraras.</p>
<p><strong>Pasangan Panakawan</strong></p>
<p>Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.</p>
<p>Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.</p>
<p><strong>Bentuk Fisik</strong></p>
<p><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/semar-kaligrafi-1.jpg?w=225&amp;h=250" alt="Kaligrafi Jawa: Semar" width="225" height="250" align="right" hspace="4" />Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.</p>
<p>Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.</p>
<p><strong>Keistimewaan Semar</strong></p>
<p>Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.</p>
<p>Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.</p>
<p>Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah – yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar – mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.</p>
<p><strong>Kepustakaan</strong></p>
<ul>
<li>Slamet Muljana, 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhrathara</li>
</ul>
<p><strong>Pranala:</strong></p>
<ul>
<li>Tulisan ini dikutip dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Semar">Wikipedia</a>.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/semar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Tayub</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/sejarah-tayub/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/sejarah-tayub/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 12:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Seni pertunjukan Tayub merupakan pertunjukan seni yang diadakan untuk ungkapan rasa syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa melalui media sedekah bumi (bersih desa), ataupun pada saat masayrakat punya hajat yang biasannya diselenggarakan pada saat musim panen. Unsur yang tidak bisa dipindahkan dari seni pertunjukan langgeng tayub adalah: - Waranngana(Sinder) : Penari putri yang mengawali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seni pertunjukan Tayub merupakan pertunjukan seni yang diadakan untuk ungkapan rasa syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa melalui media sedekah bumi (bersih desa), ataupun pada saat masayrakat punya hajat yang biasannya diselenggarakan pada saat musim panen.<br />
Unsur yang tidak bisa dipindahkan dari seni pertunjukan langgeng tayub adalah:<br />
- Waranngana(Sinder) : Penari putri yang mengawali acara dengan jogged gembyong,</p>
<p>sampai selesai pertunjukan<br />
- Pramugari : Orang yang mengatur jalannya pertunjukan.<br />
- Pengibing : Tamu yang mengikuti jogged bersama denga waranggana<br />
- Pengrawit : Orang yang menabuh (memainkan) gamela.<br />
Gending (lagu) eling-eling adalah gending pakem pedayangan sebagai awal pertunjukan yanh merupkan symbol dalam keprasahan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati leluhur-leluhur yang ada di suatu wilayah.<br />
Selesai pendenyagan rangkaian acar dilanjutkan pramugari ngedhok (Joged) dengan gending ayak, mulai mengatur pengibing yang di awali dari tuan rumah / tali aris semua tamu yang hadir kemudia n semua tamu yang hadir sampai acara selesai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TAYUBAN</strong> sebagai sebuah tradisi masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun Daerah Istimewa Yogyakarta<br />
sebenarnya hanyalah sebentuk tarian. Seperti halnya cokek, yang dikenal dalam kebudayaan masyarakat Betawi. Dalam<br />
asumsi antropologi budaya, kebudayaan banyak dilahirkan dari suatu peristiwa sejarah yang menyakitkan.</p>
<p>Perasaan tertekan sebagai akibat kehidupan di era feodal dan kolonial ditransformasikan ke dalam bentuk seni<br />
pertunjukan. Meski dari awal tayub adalah seni gambyong istana, pada perkembangannya harus keluar dan terdegradasi<br />
menjadi seni rakyat, yang makin hari dipandang dari sisi mesumnya, berkualitas rendah, dan bertendensi prostitusi. Prof<br />
Dr Suripan Sadi Hutomo (alm), pakar filologi dan folklor humanis, pernah melukiskan bahwa pada tingkatan seni rakyat<br />
yang lebih rendah lagi, tayuban mengalami perubahan.</p>
<p>Kesenian ini dinamakan janggrungan, di mana waranggono (ronggeng, tandak, kledek, taledek, ledek) ngibing di antara<br />
para blandhong (penebang kayu) di pinggir hutan demi nafkah. Cliffort Geertz menyebutnya sebagai penari jalanan-di<br />
Yogyakarta dikenal dengan mbarang-yang seringkali juga ngamen dari rumah ke rumah atau pada suatu keramaian.<br />
Padahal, dengan menelusuri tayub dari kajian etimologi akan ditemukan kondisi yang bertolak belakang. Soegio Pranoto-<br />
sesepuh tayub asal Nganjuk-meng-kiratabasa-kan tayub sebagai ditata ben guyub (diatur agar tercipta kerukunan),<br />
sebuah filosofi yang ditanamkan pada tayub sebagai kesenian untuk pergaulan. Nilai dasarnya adalah kesamaan<br />
kepentingan untuk mengapresiasikan kemampuan, jiwa, dan bakat seni, baik kemampuan sebagai penabuh gamelan<br />
(pengrawit) ataupun penarinya. Kesamaan ini akan melahirkan keselaras-serasian tayub sebagai suatu bentuk tarian;<br />
hentakan kaki yang sesuai dengan bunyi kendang, lambaian tangan seirama gambang, atau lenggok kepala pada tiap<br />
pukulan gongnya. Meski pada perkembangannya, &#8220;pergaulan&#8221; dimaknai-secara luas-sebagai bentuk silaturahmi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di daerah Malang, Pasuruan, Madiun dan Kediri, misalnya, wujud dari silaturahmi ini berupa ikatan bowo-an-di Kediri<br />
dikenal dengan mbecek-di mana setiap orang memiliki tanggung jawab untuk saling memberi dan mengembalikan<br />
bantuan. Tradisi ini terkait erat dengan peristiwa hajatan, baik pernikahan, khitanan, ataupun kematian.Dan, menjadikan<br />
tayub di daerah ini identik sebagai pertunjukan resmi dalam hajatan. &#8220;Orang yang nanggap tayub itu orang yang blater<br />
(pergaulannya luas),&#8221; tutur Samad Heriyanto, seniman tayub asal Malang. Semakin luas ikatan bowo-an yang dimiliki<br />
seseorang bisa dipastikan semakin ramai pelaksanaan hajatannya.</p>
<p>Paradoks atas kondisi tayub saat ini tidak lepas dari lemahnya kemampuan masyarakat memahami kebudayaan sebagai<br />
dasar dalam proses kehidupan. Kelompok seniman bisa saja mengukuhkan dirinya sebagai komunitas yang otonom dan<br />
mandiri.</p>
<p><strong>Komunitas religi</strong><strong></p>
<p></strong>Dalam Theater in Southeast Asia, JR Brandon menuturkan pernyataan bahwa Islam tidak membenarkan adanya figur<br />
dalam keseniannya. Pemikiran ini ditetapkan juga dalam seni pertunjukan. Akibatnya, daerah-daerah yang mempunyai<br />
identitas Islam yang kuat biasanya tidak memiliki seni pertunjukan yang profesional. Secara implisit hal ini berarti bahwa<br />
daerah-daerah tersebut tidak membantu tumbuhnya seni pertunjukan tradisional tertentu, yang ditolak oleh ajaran religi<br />
yang dianutnya. Kebenaran atas pernyataan Brandon ini sekiranya perlu untuk dibuktikan. Sebab, masih ada ronggeng<br />
dan dombret yang tumbuh di dalam kebudayaan dengan identitas Islam yang kuat; masyarakat Betawi, yang secara<br />
geografis dekat juga dengan masyarakat Sunda. Tentunya, hal ini tidak terkait dengan faktor kepemilikan atas kesenian<br />
tersebut, yang kebanyakan dipegang oleh orang Islam yang tidak taat pada prinsip-prinsip Islam (abangan).</p>
<p>Namun, konteks dari pernyataan Brandon ini dapat ditemui dalam kesenian tayub. Di mana tayub memang tumbuh<br />
berkembang pada daerah yang tidak memiliki identitas Islam yang kuat. Di Jawa Timur, perkembangannya pesat pada<br />
wilayah Tuban, Bojonegoro, sisi selatan dari Lamongan, Surabaya, pinggiran Kabupaten Pasuruan sampai Malang,<br />
Nganjuk, Tulungagung, dan Madiun.</p>
<p>Sikap menolak ini seringkali juga diwujudkan dengan bentuk menjauhi pelaku dan seniman yang terlibat di dalamnya.<br />
Sebagai Ketua RW, Soeripto lebih bisa merasakan sikap warganya tersebut. Pada suatu kesempatan, Soeripto bersiap<br />
keliling RT untuk menarik sumbangan dengan map ditenteng di tangan.</p>
<p>Alasan dosa merupakan dogma dan titik mati atas suatu aksi atau gerak. Hal ini didasarkan pemahaman akan teks dan<br />
konteks ajaran agama. Akibatnya, seperti tidak ada kebenaran dan kemaslahatan pada setiap gerak yang mengandung<br />
dosa. Bahkan, yang ada hanyalah mudaratnya. Dalam tayub, gerak dan aksi itu, menurut Soegio Pranoto, adalah suwelan<br />
dan meminum minuman yang memabukkan. Padahal, hakikat suwelan adalah pemberian uang kepada waranggana oleh<br />
seseorang setelah ngibing. Ini dilakukan sebagai ucapan terima kasih atas kesempatan untuk ngibing bersamanya. Nilai<br />
dan jumlah suwelan tidak ditentukan, tergantung kemampuan. Namun, cara pemberiannya yang unik; suwelan biasanya<br />
diselipkan pada belahan payudara waranggana. Bisa pada bagian luar atau juga ada yang diselipkan lebih dalam lagi<br />
pada sisi-sisi payudara. Tentunya, pemberi suwelan berharap tidak sekadar memberi sebagai bentuk afinitas afektifnya.</p>
<p>Adanya penolakan atas proses pemberian suwelan ini sedikit demi sedikit membawa perubahan. Suwelan kini telah<br />
diatur cara pemberiannya melalui seorang pramugari-orang yang mengatur jalannya tayub-atau bisa diselipkan di balik<br />
sampur waranggana, tepatnya di atas bahu. Bahkan, di Malang, sejak tahun 1976, oleh Samad Heriyanto diusulkan untuk<br />
pemakaian baju bagi para waranggana saat ngibing.</p>
<p>Sementara minuman keras dalam tayub, menurut Soegio Pranoto, pada awalnya difungsikan sebagai penghormatan<br />
kepada tuan rumah, pemuka desa, dan para undangan. Bila minuman yang ditawarkan oleh waranggana kepada tuan<br />
rumah diminum, itu tandanya pengunjung pertunjukan tayub juga boleh meminum minumannya.</p>
<p>Fungsi lainnya, dengan minuman ini diharapkan bisa membantu sugesti dan kepercayaan diri seseorang untuk ngibing.<br />
Namun, pada era 1970-an, menurut Samad Heriyanto, tayub mulai dijajah oleh minuman keras. Minuman sekarang bukan<br />
lagi berada di dalam lingkaran area tayub dan sudah beraneka macam merek yang disediakan.</p>
<p>&#8220;Inilah kesalahan agamawan di Indonesia,&#8221; kata KH Ahmad Musta’in Syafi’i, MAg, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng<br />
Jombang, menegaskan. Dengan hanya berbasis pada fikih, mereka cukup memandang gerak dan aksi untuk<br />
menghukumi. Dan, hukumannya hanya ada halal dan haram.</p>
<p>Pada kelompok tertentu bisa sampai menghilangkannya. Musta’in-dosen pada Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (Ikaha)-<br />
menyayangkan dianutnya fungsi hakim ini daripada peran sebagai pendidik. Konteks kesenian, terutama seni pedesaan,<br />
memiliki hakikat sebagai ekspresi dan semangat untuk dekat dengan kepercayaannya. Bentuknya bisa dengan tari, ritual<br />
seperti bersih desa atau keyakinan pada danyang (penunggu). Seharusnya, pendekatan awal yang digunakan ada pada<br />
sisi akidah (teologi); biarkan seni tayub berkembang, ambil positifnya lalu masuki dan arahkan.</p>
<p><strong>Aparatur lokal</strong><strong></p>
<p></strong>Tahun 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan gerakan yang membuat situasi nasional berubah. Kesenian<br />
tradisional pun mengalami masa kritis. Manifestasi Lekra -Lembaga Kebudayaan Rakyat yang berafiliasi pada PKI- pada<br />
kebudayaan menjadikan seniman mati ekspresi. Sebab, ada ketakutan akan menjadi bentuk partisipasi dan sikap politik<br />
Lekra. Pada masa ini, ABRI menggelar Operasi Karya, yang salah satunya dilakukan dengan menaungi kesenian<br />
tradisional. Muncullah Ludruk Wijaya Kusuma dan Bhirawa (AD), Ludruk Bumi Hamka (Marinir), dan Ludruk Bhayangkara<br />
(Kepolisian).</p>
<p>Bentuk dari penataan ini, terutama pada perizinan, terkait dengan penyelenggaraan keamanan dan ketertiban umum.<br />
Meski besar biaya perizinan bervariasi di tiap daerah dan ditanggung oleh tuan rumah, tetapi esensi dari izin tersebut tidak<br />
bisa dirasakan.</p>
<p>Di Malang, biayanya berkisar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Tetapi, saat pertunjukan, seringkali tidak ada petugas<br />
keamanan yang datang menjaga. Apalagi menertibkan pengunjung yang mabuk, berbuat rusuh, atau menggoda<br />
waranggana. Padahal, menurut Samad, bila mereka datang, itu merupakan kehormatan bagi tuan rumah. Dikasih makan<br />
dan rokok, duduk berjajar di baris depan, ngibing, bahkan pulangnya sering menerima angpao.</p>
<p>Perizinan lainnya, seperti di Nganjuk, Tuban, dan Malang, adalah diterbitkannya advise (nomor induk) bagi waranggana.<br />
Tanpa advise ini, seorang waranggana dilarang untuk pentas dan minimal setahun sekali harus memperbarui advise ini.<br />
Biayanya mungkin tidak terlalu besar, sekitar Rp 50.000, tetapi cukup menunjukkan adanya peran negara dalam<br />
mematikan kehidupan, jiwa, dan bakat seni seseorang.</p>
<p>Ini bisa dilakukan mengingat di Nganjuk dan Tuban menunjukkan aktivitas yang tinggi dalam penyelenggaraan tayub.<br />
Nganjuk memiliki agenda Wisuda Waranggana, berpusat di Padepokan Langen Tayub, Desa Ngrajek, Tanjunganom,<br />
Nganjuk. Acara ini digelar setiap tahun di bulan besar (Jawa). Setelah penempaan selama 6 bulan dari olah vokal hingga<br />
tari, calon waranggana akan diwisuda di lokasi sekitar punden Ki Ageng Gribig.</p>
<p>Di Tuban, menurut Sutardji, Kepala Bagian Kesenian Dinas Pariwisata Tuban, setiap tahunnya terdapat 1.500-3.000 kali<br />
pertunjukan tayub. Bahkan, sampai dengan tahun 2004 sudah ada yang booking pementasan, sedangkan tahun 2003 ada<br />
158 izin pementasan. Dinas Pariwisata Tuban, November 2002 lalu, menggelar Citra Resmi Waranggana, acara tahunan<br />
untuk meresmikan (mewisuda) waranggana baru.</p>
<p>Bagi Endang Sugiarti, waranggana senior, acara ini semakin memberatkan calon waranggana. Sebab, segala kebutuhan<br />
untuk wisuda menjadi tanggungan pribadi, bukan dari Dinas Pariwisata. &#8220;Jumlahnya besar, bisa jutaan. Sewa dokar,<br />
pakaian, pendaftaran, sampai make-up,&#8221; tuturnya. Tayub dan senimannya saat ini menjadi obyek negara. Fungsi fasilitator<br />
berubah menjadi eksekutor, atas hak hidup profesi seni seseorang. Menafsir kembali makna tayub sebagai ditata ben<br />
guyub, adalah menata kembali kepentingan negara terhadap tayub .</p>
<p>Terakhir, penulis ingin menyampaikan satu pesan dari Samad Hariyanto kepada Pemerintah Kota Malang, &#8220;Apa, sih,<br />
perhatian mereka pada tayub. Sebagai insan tayub, saya belum pernah itu dikumpulkan, diajak ngobrol. Ketemu paling<br />
cuma waktu pengurusan izin.&#8221;<br />
&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Tayub Bukan Tarian Mesum</h2>
<p><strong>ANGGAPAN</strong> tayub sebagai tarian mesum merupakan penilaian yang keliru. Sebab, tidak seluruh tayub identik dengan hal-hal yang negatif. Dalam tayub, ada kandungan nilai-nilai positif yang <em>adiluhung</em>. Selain itu, tayub juga menjadi simbol yang kaya makna tentang pemahaman kehidupan dan punya bobot filosofis tentang jati diri manusia.</p>
<p>Kesan tayub sebagai tarian mesum muncul pada abad 19. Pada 1817, GG Rafles dari Inggris, dalam bukunya berjudul &#8221;History of Java&#8221;, menulis tayub sebagai tarian ronggeng mirip pelacuran terselubung. Kesan sama juga dituliskan oleh peneliti asal Belanda, G Geertz dalam bukunya &#8221;The Religion of Java&#8221;.</p>
<p>Tapi, menurut koreografer Tayub Wonogiren, S Poedjosiswoyo BA, orang Jawa akan protes bila kesan Rafles dan Gertz itu diterima secara utuh. Sebab, kata dia, kesan mesum yang diberikan pada tayub hakikatnya terbatas pada pandangan sepintas yang baru melihat kulitnya saja, tanpa mau mengenali isi maupun kandungan nilai filosofisnya.</p>
<p>Dalam buku &#8221;Bauwarna Adat Tata Cara Jawa&#8221; karangan Drs R Harmanto Bratasiswara disebutkan, tayuban adalah tari yang dilakukan oleh wanita dan pria berpasang-pasangan. Keberadaan tayub berpangkal pada cerita kadewatan (para dewa-dewi), yaitu ketika dewa-dewi mataya (menari berjajar-jajar) dengan gerak yang guyub (serasi).</p>
<p>Menurut Poedjosiswoyo, berdasarkan sejarahnya, tayub lahir sebagai tarian rakyat pada abad Ke XI. Waktu itu, Raja Kediri berkenan mengangkatnya ke dalam puri keraton dan membakukannya sebagai tari penyambutan tamu keraton. Betapa tayub memiliki kandungan nilai adiluhung, kiranya dapat disimak dari tulisan dalam buku &#8221;Gending dan Tembang&#8221; yang diterbitkan Yayasan Paku Buwono X.</p>
<p>Dalam buku itu disebutkan, tayub telah dipakai untuk penobatan Prabu Suryowiseso sebagai Raja Jenggala, Jawa Timur, pada abad XII. Keraton Jenggala kemudian kemudian membakukan tayub sebagai tari adat kerajaan, yang mewajibkan permaisuri raja menari <em>ngigel</em> (goyang) di pringgitan untuk menjemput kedatangan raja.</p>
<p><strong>Nilai Agamis</strong></p>
<p>Tayub juga diyakini memiliki kandungan nilai agamis. Hal itu terjadi pada abad XV, ketika tayub digunakan sebagai media syiar agama Islam di pesisir utara Jawa oleh tokoh agama Abdul Guyer Bilahi, yang selalu mengawali pagelaran ayub dengan dzikir untuk mengagungkan asma Allah.</p>
<p>Budaya kejawen penganut paham tasawuf menilai tayub kaya kandungan filosofis akan gambaran jati diri manusia lengkap dengan anasir keempat nafsunya. Dalam tarian itu selalu ada penari pria yang menjadi tokoh sentral, sebagai visualisasi keberadaan Mulhimah. Kemudian dilengkapi dengan empat penari pria pendamping, yang disebut sebagai pelarih, sebagai penggambaran anasir empat nafsu manusia, terdiri atas aluamah (hitam), amarah (merah), sufiah (kuning) dan mutmainah (putih).</p>
<p>Selain itu, pemeran penari <em>tledhek </em>wanita sebagai penggambaran dari cita-cita keselarasan hidup yang diidamkan manusia. &#8221;Yang inti kesimpulannya, untuk meraih cita-cita, harus terlebih dahulu mampu mengendalikan anasir empat nafsu. Yang ini identik dengan pakem wayang lakon Harjuno Wiwoho-Dewi Suprobo,&#8221; kata Poedjosiswoyo. (<strong>Bambang Pur</strong>-43)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>KESENIAN SANDUR<br />
(Teater Rakyat Yang Hampir Punah)</p>
<p>Seni pertunjukan Sandur dapat dikategorikan sebagai seni pertunjukan tradisional yang berbentuk teater tradisional. Sebagai bentuk teater tradisional, Sandur memiliki ciri-ciri yang sama dengan teater tradisonal daerah lainnya yaitu mempunyai sifat yang sederhana dalam penyajiannya.<br />
Sebagai bentuk teater tradisional, seni pertunjukan Sandur mempunyai unsur cerita (drama), Tari, Karawitan, Akrobatik (Kalongking) juga terdapat unsur-unsur mistis, karena dalam setiap pementasanya selalu menghadirkan Danyang (roh halus).<br />
Asal- usul Kesenian Sandur.<br />
kesenian sandur berasal dari permainan anak-anak yang kemudian berkembang menjadi sebuah produk kesenian yang bertumpu pada upacara ritual. Karena sulitnya mencari bahan referensi dan minimnya studi tentang kesenian ini, maka awal keberadaannya tidak diketahui. Namun dari proses wawancara dengan para tokoh kesenian Sandur yang masih ada, dapat diperoleh keterangan bahwa Sandur ada sejak jaman kerajaan yang masih ,menganut aliran kepercayaan atau animisme.<br />
Kata Sandur ada beberapa versi yang di antaranya dari kata san yang berarti selesai panen (isan) dan dhur yang berarti ngedhur. Dari sumber lain mengatakan bahwa sandur berasal dari bahasa Belanda yaitu soon yang berarti anak-anak dan door yang berarti meneruskan. Sumber lain juga menyebutkan bahwa Sandur yang terdiri dari berbagai cerita tersebut dengan sandiwara ngedur, artinya kesenian itu terjadi karena berisi tentang berbagai macam cerita yang tak akan habis sampai pagi.6<br />
Pada sekitar tahun 1960-an Kesenian ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, hampir di setiap desa di kecamatan kota Bojonegoro memiliki kelompok kesenian sandur.7 Kemudian pada tahun 1965 setelah meletusnya peristiwa G 30 S/PKI kesenian Sandur mengalami kemunduran yang sangat drastis. Hal ini disebabkan Sandur dicurigai telah disusupi oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Organisasi massa milik PKI). Situasi politik pada saat itu membuat kesenian Sandur ini terpojok dan mengalami kemunduran. Masyarakat pendukungnya menjadi antipati terhadap kesenian tersebut. Hingga pada tahun 1978 kesenian ini muncul kembali, dan baru pada tahun 1993 Sandur mulai dipentaskan kembali pada festival kesenian rakyat berkat usaha dari seniman setempat bekerja sama dengan Departemen Penerangan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayan. Hingga sampai saat ini kesenian Sandur telah beberapa kali dipentaskan.<br />
Keberadaan Seni Pertunjukan Sandur.<br />
Kesenian tradisional, khususnya seni pertunjukan rakyat tradisional yang dimiliki, hidup dan berkembang dalam masyarakat, sebenarnya mempunyai fungsi penting. Hal ini terlihat terutama dalam dua segi, yaitu daya jangkau penyebarannya dan fungsi sosialnya. Dari segi penyebaran, seni pertunjukan rakyat memiliki wilayah jangkauan yang meliputi seluruh lapisan masyarakat. Dari segi fungsi sosialnya, daya tarik pertunjukan rakyat terletak pada kemampuannya sebagai pembangun dan pemelihara solidaritas kelompok. Dengan demikian seni pertunjukan tradisional itu memiliki nilai dan fungsi bagi kehidupan masyarakat pemangkunya.<br />
Seni pertunjukan Sandur berasal dari permainan anak-anak yang kemudian berkembang menjadi upacara ritual. Sandur adalah sebuah produk budaya masyarakat Bojonegoro, khususnya Desa Ledok Kulon. Kehadirannya sebagai bentuk media interaksi dalam norma kehidupan. Kesenian ini hadir karena solidaritas masyarakatnya atas nilai tersebut, dalam organisasi kelompok masyarakat setempat. Dalam kehidupan komunal telah hadir sebuah peradaban baru yang biasa disebut dengan era transformasi. Era tersebut membawa sistem nilai baru dalam masyarakatnya dengan masuknya listrik ke daerah ini serta hadirnya aneka barang elektronik yang melengkapi kehidupan mereka, produk tersebut memberikan wawasan baru yang datangnya tidak terkendali. Terlebih dengan merebaknya stasiun televisi yang operasionalnya cenderung menayangkan acara impor, telah menyebabkan ketidakseimbangan informasi. Hal ini akan berakibat buruknya tingkah laku remaja. Di sadari atau tidak masyarakat Ledok Kulon merupakan masyarakat yang cukup selektif, artinya mereka mampu mempertahankan norma dan adat yang berlaku dalam era transformasi ini. Pada hakikatnya kesenian Sandur bagi masyarakat Desa Ledok Kulon adalah sebagai penyeimbang dalam menghadapi era transformasi, di samping sebagai media informasi dan hiburan.<br />
Sandur berawal dari sebuah bentuk permainan anak-anak, yang dalam perkembangannya lebih berfungsi sebagai ritual. Pertunjukan yang diadakan pada tanah lapang ini fungsi awalnya adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang dicapai. Pemanggilan roh dan dewa-dewi, perlindungan nenek moyang terhadap kehidupan mereka, merupakan rangkaian maksud diselenggarakannya upacara. Sistem dan nilai yang diterapkan mengandung mitos norma-norma dasar tata laku dalam hubungan kepentingan vertikal dan horizontal. Tata nilai tersebut merupakan sebuah warisan pemahaman, bagaimana seharusnya siklus kehidupan orang Jawa. Kehidupan masyarakat agraris merupakan pengilhaman bentuk kesenian Sandur yang bermakna upacara kesuburan. Upacara ini rutin dilakukan ketika masa panen tiba. Kehadiran berbagai macam agama didaerah ini sedikit banyak telah mempengaruhi bentuk penyajian kesenian Sandur, karena pada saat itu kesenian dan keadaan sosial masyarakatnya merupakan alat politik untuk legitimasi seorang raja baik pada masa Hindu, Budha maupun pada masa Islam.<br />
Sandur bagi masyarakat berfungsi sebagai media penerangan dan pendidikan, selain sebagai hiburan. Secara moral Sandur menjadi penyeimbang di era transformasi ini. Penawaran yang dilakukan oleh jaman, dirasakan tidak selalu sesuai dengan irama hidup masyarakat setempat, Muatan lokal yang terdapat didalamnya merupakan esensi hidup masyarakat, sebagai norma yang harus dipertahankan. Norma-norma tersebut didapatkan dari kehidupan kolektivitas atas wujud dari solidaritas masyarakat berdasarkan kesepakatan nilai norma sebagai hukum adat yang tidak tertulis. Usaha yang dilakukan dengan tidak mengubah bentuk penyajian Sandur merupakan cermin kebutuhan masyarakat atas nilai penyeimbang dan fungsi kesenian ini dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerita yang diangkat adalah tentang kehidupan masyarakat sehari-hari, yang merupakan cermin keadaan realitas sosial.</p>
<p>C. Sarana Penunjang Pertunjukan Sandur.<br />
Seni pertunjukan Sandur adalah seni pertunjukan rakyat yang sederhana, ini dapat diketahui dari bentuk pementasannya yang hanya dilakukan di tanah lapang dan hanya memakai lampu penerangan dari obor.<br />
Sebagai salah satu seni pertunjukan, kesenian Sandur juga memerlukan sarana dan prasarana penunjang dalam pertunjukannya. Sarana penunjang dalam pertunjukan Sandur tersebut adalah :<br />
1. Tempat dan Sarana Pertunjukan.<br />
Seni pertunjukan sandur biasanya dipentaskan di tanah lapang, dibatasi pagar berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8 x 8 meter yang biasa disebut Blabar Janur kuning, kemudian tali itu diberi hiasan lengkungan janur kuning dan digantungi aneka jajan pasar, selain itu juga terdapat ketupat dan lontong ketan atau lepet. Dua batang bambu jenis ori ditancapkan dengan ketinggian kurang lebih 10 – 12 meter, di antara bambu tersebut dipasang tali besar yang menghubungkan kedua bambu. Kedua batang bambu beserta talinya tersebut digunakan untuk adegan Kalongking.<br />
Tata cahaya dalam pertunjukan sandur adalah obor mrutu sewu, yaitu sejenis obor yang lubang untuk menyalakan apinya terdapat lebih dari 3 lubang. Obor mrutu sewu ini terbuat dari bambu, biasanya dari jenis bambu ori. Bambu ori tersebut memang banyak terdapat di daerah Bojonegoro. Mrutu sewu ini dipasang di sekeliling arena pertunjukan.<br />
Seperti halnya dengan jenis kesenian tradisi lainnya yang selalu menggunakan mantera dan sesaji dalam pementasan, demikian pula dengan seni pertunjukan Sandur, juga menggunakan mantera dan sesaji. Sesaji ini di buat dengan tujuan agar acara pertunjukan dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Sesaji yang dipersiapkan antara lain, beras, dupa, cikalan yang bagian tengahnya di beri gula merah, kembang setaman dan kembang boreh.</p>
<p>2. Waktu Penyajian.<br />
Durasi pertunjukan Sandur tidak memiliki batas waktu tertentu, bisa disajikan 3 hingga 5 jam pertunjukan. Namun seni pertunjukan Sandur biasanya disajikan pada malam hari mulai pukul 21.00 WIB hingga selesai menjelang subuh atau sekitar jam 03.00 WIB. Lama dan singkatnya waktu pertunjukan tergantung situasi dan kondisi permainannya.</p>
<p>3. Pemain.<br />
Jumlah pendukung pementasan Sandur ini sekitar 20 sampai 25 orang, ke 25 orang tersebut terbagi dalam perannya masing-masing yaitu, 2 orang sebagai pemain musik yaitu sebagai Panjak Kendang dan Panjak Gong, 10 sampai 15 orang sebagai Panjak hore, 1 orang pemain Jaranan dan 1 orang Srati (pawang/dukun), 5 orang sebagai pemeran tokoh (Germo, Cawik, Pethak, Balong, Tangsil ), dan 1 orang sebagai pemain Kalongking.</p>
<p>4. Iringan.<br />
Instrumen musik yang digunakan adalah Gong Bumbung dan sebuah Kendang Batangan/Ciblon yang dibantu dengan Panjak Hore dan berperan sebagai pelantun tembang serta tukang senggak. Semua bentuk iringan yang terdapat dalam seni pertunjukan Sandur memiliki stuktur gending dalam bentuk lancaran, yaitu satu tabuhan yang terdiri dari 4 gatra (16 sabetan ), tabuhan kenong terdapat pada sabetan ke 4, 8, 12 dan 16. Tabuhan kempul terdapat pada sabetan ke 6, 10 dan ke 14, tabuhan ketuk terletak pada ding gatra. Kendangan yang dipakai adalah pola sekaran pinatut. Tembang yang digunakan dalam seni pertunjukan Sandur sangat fungsional, selain sebagai pengiring keluar-masuknya pemain juga berfungsi sebagai mantera pemanggil roh halus.</p>
<p>5. Kostum.<br />
Kostum merupakan salah satu bagian penting dalam sebuah pertunjukan, begitu juga halnya dengan seni pertunjukan Sandur yang menggunakan kostum untuk membedakan karakter peran satu dengan karakter peran lainnya. Kostum yang digunakan oleh para peran merupakan ciri bagi pemerannya yang mempunyai sifat khusus.<br />
a. Pethak<br />
Kostum yang digunakan oleh tokoh peran Pethak adalah, kuluk, sumping, dan surjan berwarna putih. Tokoh Pethak ini menggambarkan masyarakat kelas bawah yang memiliki karakter pekerja keras, ulet, lugu dan keras dalam pendiriannya.<br />
b. Balong.<br />
Kostum tokoh Balong memakai kuluk, elar, celana cinde dan pakaian hitam. Balong adalah gambaran masyarakat bawah, mempunyai berkarakter lemah, bodoh, dan mudah putus asa.<br />
c. Tangsil.<br />
Kostum yang dipakai Tangsil adalah jas, dasi, celana panjang dan memakai topi Kompeni. Tokoh ini menggambarkan orang yang sudah mapan, kaya, dewasa, bijaksana dan berwawasan luas.<br />
d. Cawik<br />
Tokoh Cawik biasanya diperankan oleh seorang wanita. Kostum yang dipakai Cawik adalah kostum penari. Tokoh cawik menggambarkan seorang wanita yang berprofesi sebagai Sindir (penari tayub).<br />
e. Germo.<br />
Tokoh Germo memakai celana komprang hitam, dan iket. Tokoh ini memiliki karakter tua, bijaksana dan merupakan identifikasi sebagai seorang pemimpin.<br />
Tokoh tokoh pendukung lainnya seperti Panjak Kendang, Panjak Gong, Panjak Hore, Tukang Jaran dan pemain Kalongking biasanya memakai kostum seperti petani, yaitu hanya menggunakan celana komprang warna hitam.</p>
<p>6. Bentuk Penyajian.<br />
Sandur terdiri dari delapan adegan yang terdapat dalam tiga babak, sedangkan pergantian babak selalu ditandai dengan tembang yang dilantunkan oleh Panjak Hore. Dalam seni pertunjukan Sandur tembang berfungsi sebagai pengiring keluar masuknya peran dan pergantian adegan, selain itu tembang juga berfungsi sebagai mantera pemanggil roh atau bidadari. Fungsi yang lain adalah sebagai narasi perjalanan tokoh peran. Ketiga babak tersebut terdiri dari:<br />
a.Babak Pembukaan.<br />
Babak pembukaan ditandai dengan dilantunkannya tembang Ilir Gantu. Para pemain berada di arena Blabar Janur Kuning. Tokoh Germo memperkenalkan satu persatu para pemain Sandur kepada penonton. Setelah acara perkenalan selesai para pemain keluar dari arena permainan menuju ruang rias yang dituntun oleh seorang perias. Pada saat para pemain tokoh peran keluar untuk dirias. Germo lalu memberikan narasi yang isinya menceritakan tentang perjalannan bidadari yang akan datang menuju ketempat pertunjukan dan masuk kedalam para pemeran.<br />
Setelah para pemeran selesai dirias lalu kembali dibawa masuk ke dalam arena pentas dengan dituntun oleh seorang perias yang membawa obor. Semua pemeran masuk ke dalam arena pentas dengan kepalanya ditutupi selembar kain.<br />
Pada babak pertama ini, berisi tentang eksposisi atau pemaparan dari awal kejadian tokoh dan cerita yang akan berlangsung. Babak ini memberikan penjelasan tentang rangkaian jalannya cerita. Keterangan yang didapat pada babak ini berisi tentang cerita kelahiran manusia yang diidentifikasikan melalui simbol-simbol dan tokoh-tokoh di dalamnya.<br />
b.Babak Kedua.<br />
Babak kedua ditandai dengan tembang Bukak Kudung. Pada adegan ini semua pemeran dibuka kain kerudung penutup kepalanya, selanjutnya telah menempati posisinya masing-masing. Di babak ini diceritakan tentang perjalanan tokoh Balong dan Pethak yang tengah mencari pekerjaan. Keseluruhan isi cerita di babak ini adalah perjalanan tentang kehidupan masyarakat agraris dengan segala permasalahannya.<br />
c. Babak Ketiga.<br />
Babak ketiga ini merupakan babak penutup, berisi tentang nasib akhir para tokoh peran. Pada babak ketiga ini akan diadakan atraksi Jaranan dan Kalongkingan. Kemudian baru diakhiri dengan tembang Sampun Rampung yang menandakan pertunjukan telah selesai disajikan.</p>
<p>7. Teks/Naskah.<br />
Kesenian Sandur merupakan sebuah cermin kehidupan masyarakat Desa Ledok Kulon. Begitu juga sebaliknya, sistem kehidupan masyarakat yang kolektif menjadi titik tolak dalam penyutradaraan kesenian Sandur ini.<br />
Awalnya cerita yang disajikan dalam seni pertunjukan Sandur hanya berdasarkan cerita turun temurun dan mitos yang berkembang di daerah tersebut. Penuangan cerita dan mitologi ke dalam kesenian Sandur belum menggunakaen naskah tertulis atau masih merupakan cerita tutur. Cerita yang tertulis dalam bentuk teks/naskah pertama kali dibuat pada tahun 1993 saat Sandur mengikuti pagelaran yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Di dalam naskah ini, tertulis urutan keluar masuknya para tokoh peran dan urutan tembang yang disajikan.<br />
Dalam menggarap naskah Sandur, sutradara merupakan kreator. Sutradara berperan juga sebagai koordinator latihan, sekaligus menjadi mediator untuk mengungkap naskah dan tujuan misinya. Namun tidak jarang seorang penulis naskah merupakan sutradara sekaligus pemain. Sutradara dalam Sandur ini biasanya berperan sebagai tokoh Germo yang berfungsi sebagai dalang dan sekaligus dukun yang mengobati para pemain Jaranan yang sedang trans.<br />
8. Penonton.<br />
Penonton terdiri dari semua lapisan masyarakat, mulai dari anak–anak sampai orang tua. Tingkat apresiasi masyarakat terhadap kesenian sandur tergolong baik, ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah penonton. Tak jarang para penonton juga ikut menirukan tembang yang dilantunkan oleh para Panjak Hore.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/sejarah-tayub/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pagelaran Wayang Kulit di Jodhipati</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/pagelaran-wayang-kulit-di-jodhipati/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/pagelaran-wayang-kulit-di-jodhipati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 11:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jodhipatifm.co.id/pagelaran-wayang-kulit-di-jodhipati/pagelaran-wayang-kulit/" rel="attachment wp-att-73"><img class="aligncenter size-medium wp-image-73" title="pagelaran wayang kulit" src="http://jodhipatifm.co.id/wp-content/uploads/2012/01/pagelaran-wayang-kulit-300x186.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/pagelaran-wayang-kulit-di-jodhipati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Crew Jodhipati Fm</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/crew-jodhipati-fm/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/crew-jodhipati-fm/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 11:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jodhipatifm.co.id/crew-jodhipati-fm/crew-jodhipati/" rel="attachment wp-att-60"><img class="aligncenter size-medium wp-image-60" title="crew jodhipati" src="http://jodhipatifm.co.id/wp-content/uploads/2012/01/crew-jodhipati-300x186.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/crew-jodhipati-fm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lomba Geguritan Jodhipati</title>
		<link>http://jodhipatifm.co.id/lomba-geguritan-jodhipati/</link>
		<comments>http://jodhipatifm.co.id/lomba-geguritan-jodhipati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 11:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jodhipatifm.co.id/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_55" class="wp-caption aligncenter" style="width: 413px"><a href="http://jodhipatifm.co.id/lomba-geguritan-jodhipati/lomba-geguritan-2-2/" rel="attachment wp-att-177"><img class=" wp-image-177" title="lomba geguritan 2" src="http://jodhipatifm.co.id/wp-content/uploads/2012/01/lomba-geguritan-21.jpg" alt="" width="403" height="251" /></a><p class="wp-caption-text">lomba geguritan jodhipati</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jodhipatifm.co.id/lomba-geguritan-jodhipati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

